Ant Colony
Algoritma Ant Colony (ACO)
Metode
Ant Colony diadopsi dari perilaku koloni semut, secara alamiah koloni semut
mampu menemukan rute terpendek dalam perjalanan dari sarang ke sumber makanan
berdasarkan jejak semut-semut yang lain pada lintasan yang telah dilalui.
Semakin sering lintasan dilalui maka semakin banyak pula semut lain yang akan
melewati lintasan tersebut dan sebaliknya lintasan yang dilalui semut dalam
jumlah sedikit, semakin lama semakin berkurang kepadatan semut yang
melewatinya, atau bahkan tidak dilewati sama sekali.
Pada saat semut melewati
lintasan, semut meninggalkan sejumlah informasi, berupa zat kimia yang disebut pheromone. Melalui pheromone inilah terjadi komunikasi tidak langsung dan juga
pertukaran informasi antar semut selagi membangun suatu solusi. Proses
peninggalan pheromone ini dikenal
sebagai stigmetry, yaitu sebuah proses memodifikasi lingkungan
yang tidak hanya bertujuan untuk mengingat jalan pulang ke sarang, tetapi juga
memungkinkan para semut berkomunikasi dengan sesamanya.
Agar semut mendapatkan jalur optimal dalam perjalanannya, diperlukan beberapa proses :
1. Pada awalnya, semut berkeliling secara acak, hingga menemukan makanan.
2. Ketika menemukan makanan mereka kembali ke sarangnya sambil memberikan tanda dengan jejak pheromone. 3. Jika semut-semut lain menemukan jalur tersebut, maka mereka tidak akan bepergian dengan acak lagi, melainkan akan mengikuti jejak tersebut.
4. Jika pada akhirnya mereka pun menemukan makanan, mereka kembali menguatkan jejaknya.
5. Pheromone yang berkonsentrasi tinggi pada akhirnya akan menarik semut-semut lain untuk berpindah jalur, menuju jalur paling optimal, sedangkan jalur lainnya akan ditinggalkan.
Multiple Ant Colony System
Multiple Ant coloni system adalah salah satu
pengembangan dari algoritma ant koloni sistem selain ACO.
Pada algoritma ini biasanya akan dibentuk beberapa coloni
semut atau yang sering disebut multiple ant colony yang
memiliki tugas-tugas yang berbeda satu koloni dengan koloni
lainnya. Sebagai contoh missal pada kasus VRP dengan time
window dibentuk koloni pertama yang digunakan untuk
meminimalisir jumlah kendaraan, sedangkan koloni yang
kedua digunakan untuk meminimalisir biaya/cost. Berikut ini
algoritma MACS untuk solusi kasus VRPTW.
Kelebihan Ant Colony
Kelebihan dari algoritma Ant Colony Optimization(ACO)
adalah optimal dalam mencari jarak terdekat, dan sudah
mampu menghitung minimalisasi total time travel walaupun
kurang optimal. Sedangkan kelemahan dari algoritma ini
adalah komplexitas yang cukup banyak sehingga runing
timenya juga cukup lama. kelebihan dari algoritma multiple
ant colony system (MACS) hampir sama dengan ACO namun
MACS lebih optimal dalam minimalisasi total time travel.
sedangkan kelemahannya juga hampir sama dengan ACO,
yang membedakannya adalah runing time yang cenderung
lama karena komplesitas yang banyak. Sedangkan algoritma
terakhir yaitu tabu search memiliki kelebihan dan kelemahan
yang sama dengan ACO namun untuk runing timenya tabu
search cenderung cukup cepat
Sumber :
Mulia, Dedi. 2011. Aplikasi Algoritma Ant System (AS)Dalam Kasus Traveling Salesman Problem (TSP).Jakarta: UIN Jakarta.
Tidak ada komentar: